Ganjar Soroti Nasib Petani Tembakau yang Masih Belum Sejahtera

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo

JAKARTA, INFO BREAKING NEWS - Siapa yang tidak tahu Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono? Pasangan kakak-beradik ini dikenal sebagai sosok terkaya se-Indonesia.
 

Hartono bersaudara merupakan pemilik PT Djarum yang berpusat di Kudus, Jawa Tengah. Berdasarkan data terakhir, kekayaan Robert mencapai 20,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 287 triliun. Jumlah tersebut meningkat 6,9 miliar dollar AS Di tingkat dunia sehingga menempatkan Budi Hartono di posisi ke-86 daftar orang terkaya dunia.


Sementara itu, sang kakak Michael Hartono menduduki posisi ke-89 dengan nilai kekayaan 19,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp275,8 triliun. Nilai kekayaannya meningkat 6,7 miliar dollar AS bila dibandingkan dengan tahun lalu. 


Kondisi ini jelas berbanding terbalik dengan nasib petani tembakau yang mayoritas masih hidup dalam garis kemiskinan. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan Indonesia merupakan negara penghasil tembakau terbaik di dunia, tapi nasib petaninya masih belum sejahtera.


Setidaknya ada 7 Juta petani dan keluarganya yang menggantungkan nasib hidupnya dari industri rokok. Secara pendapatan, para pekerja di pabrik nasibnya memang sudah terjamin, sudah aman, karena jadi tanggung jawab perusahaan. 


“Tapi petani tembakau yang memegang kendali hulu industri rokok ini malah belum sejahtera. Bahkan beberapa menyatakan menderita. Sebagian besar dari mereka hidup segan mati tak mau,” kata Ganjar dikutip dari Instagram pribadinya Bicara soal Tembakau, Minggu (3/10/2021).


Ganjar menjelaskan, mungkin banyak orang berpikir kenapa petani tembakau tidak beralih ke komoditas lain, seperti kopi, jagung, kedelai, atau lainnya. “Pemikiran seperti itu ada benarnya, tapi persoalannya tidak sesederhana itu ferguso,” lanjut dia.


Bicara tembakau berarti bicara soal peluang dan keberpihakan. Ganjar menilai, jika bicara peluang karena di negara Indonesia ini mampu menghasilkan tembakau terbaik di dunia. 


Misalnya, ada tembakau Srintil yang ada di Temanggung, tembakau rancak di Madura, dan tembakau virginia yang ada di NTB, bahkan di Jember tembakaunya diproduksi dan diekspor untuk cerutu kelas dunia. 


“Semua ini hebatnya bukan main. Untuk tembakau lain bagaimana? Ada 17 provinsi penghasil tembakau di negara kita, tapi yang tertinggi ada 4 provinsi, Jatim, Jateng, NTB, serta Jawa Barat, masing-masing punya grade-nya sendiri, dari grade A sampai grade G yang paling bagus dan paling mahal harganya,” jelasnya. 


Untuk Grade G yang umumnya berasal dari tembakau Temanggung itu harganya bisa sampai Rp 1 juta per kilonya. Sedangkan grade A sampai C paling sekitar Rp40-Rp90 ribu. “Kalau melihat itu, harusnya para petani tembakau makmur bin sejahtera kan? Tapi nyatanya tidak,” tegasnya. 


Menurut Ganjar, hal ini disebabkan oleh kurangnya keberpihakan dari Pemerintah serta minimnya pihak yang memikirkan nasib petani tembakau. Sehingga daya tawar petani menjadi sangat lemah, jadi kalau pabrik sudah memutuskan harga petani tak bisa tawar-menawar. 


Di sisi lain, ada saja hal-hal yang membuat petani bertanya-tanya, misalnya kenaikan cukai yang jelas berdampak besar ke petani. 


“Begitu kata mereka kepada saya. Cukai naik, pabrik mengurangi serapan, lalu harga di tingkat petani ya langsung ambles. Untuk Grade A sampai D yang harusnya sekitar Rp 90 ribuan harganya anjlok bisa sampai Rp 10 ribuan,” pungkasnya.  ***Candra Wibawanti


Subscribe to receive free email updates: